Writer’s Block

Katakan Selamat Tinggal Untuk Writer’s Block

NAHLIA CHOIRUNNISA

MILLENNIA-SOLUSI.ID — Setiap penulis pasti pernah berada pada fase writer’s block. Kondisi ini terjadi ketika mengalami kebuntuan dalam menulis. Baik di awal penulisan, di tengah, atau pun di akhir bisa mengalaminya. Penulis bingung mengembangkan ide atau pun merangkai kata.

Kalau kalian pikir ini hanya terjadi pada pemula, jelas salah. Penulis berpengalaman pun bisa lho mengalaminya dan ini sebenarnya adalah hal yang lumrah terjadi. Meskipun biasa terjadi, tetapi sukses membuat tiap penulis frustrasi.

Tentunya tidak bisa berlarut-larut dalam kondisi ini. Karena bagaimana pun, pekerjaan yang tak kunjung selesai akan semakin menambah beban dan penulis adalah seseorang yang terbiasa dengan deadline.

Penulis mega best seller asal Indonesia, Dee Lestari, mengatakan bahwa ada dua jenis writer’s block yang sering ia alami, “akut” dan juga besar.

Dee menganggap writer’s block “akut” lebih tepat dikatakan sebagai distraksi dibandingkan kebuntuan. Penyebabnya karena penulis kurang cermat menemukan letak kesalahan. Awalnya hanya hal kecil, tetapi bisa menjadi besar jika dibiarkan. Saat berada di fase ini, Dee menyarankan untuk rehat sejenak, lalu lanjutkan menulis.

Kemudian writer’s block besar. Dikatakan besar karena penulis bisa berada pada fase ini berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Nah, kondisi kedua ini dianggap lebih layak untuk disebut writer’s block.

Dee menganggap, tidak semua halangan yang ditemui oleh penulis, layak disebut writer’s block. Semakin sering menulis, lebih lanjut Dee mengatakan bahwa akan sering menemukan kedua hal ini. Tipenya berbeda, maka penanganannya pun berbeda pula.

Penanganan Writer’s Block “Akut” Ala Dee Lestari

Berhenti Menulis
Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik, bukan? Jadi, jangan paksakan diri saat mengalami distraksi. Memforsir otak akan sia-sia karena pasti tidak akan bisa mengeluarkan kita dari kondisi ini. Jadi, tidak apa jika rehat sejenak dari kegiatan. Ingat lah bahwa ide bisa muncul di waktu-waktu yang tidak diduga. Bisa saja karena kita sudah santai, otak sudah segar, tanpa disadari ide itu muncul.

Mandi
Habis lelah seharian beraktivitas, yang ada dipikiran kita pasti ingin menyegarkan tubuh dengan mandi, bukan? Rasanya air yang mengguyur tubuh kita, bisa meluruhkan kelelahan yang melekat pada tubuh.

Badan yang kembali segar juga memengaruhi pikiran. Yang awalnya pikiran seperti simpul mati, kemudian simpulan itu berhasil lepas. Dee mengatakan, hal ini sesuai dengan ilmu Ayurveda.

Dijelaskan bahwa mandi (atau bisa setengah mandi yang disebut vyapak saocha, yang mirip dengan wudhu) adalah bagian dari ritual meditasi. Fungsinya untuk mendinginkan titik-titik panas tubuh yang biasa disebut dengan “celoteh pikiran”.

Ketika titik-titik ini didinginkan, celoteh pikiran ini akan menyurut dan segala kegaduhan akan tersamarkan sehingga kita bisa “mendengar” dengan jelas pikiran kita.

Hindari Distraksi
Tidak semua orang bisa menulis dalam keadaan berisik atau multitasking. Ada baiknya, apapun yang dirasa dapat mengganggu proses menulis, segera hindari. Misal, kamu mudah terganggu dengan suara notifikasi handphone, maka aturlah menjadi mode senyap.

Gerakkan Tubuh
Berlama-lama duduk di depan laptop, selain membuat otak dan mata lelah juga badan kita seperti tertimpa benda berat. Coba renggangkan tubuh beberapa menit untuk merenggangkan otot.

Lalu, Bagaimana Jika Mengalami Writer’s Block Besar atau Kronis?

Bongkarlah ceritamu. Apa saja yang perlu dibongkar? Dee mengatakan, elemen fiksi yang terdiri dari karakter, plot, dialog, setting, dan konflik. Namun, hal ini menjadi hal yang dibenci juga ditakuti para penulis.

Mengapa? Karena bisa jadi penulis harus memulai ceritanya dari awal. Kalaupun tidak, ceritanya harus direvisi. Apakah hasilnya akan bagus? Menurut Dee, belum tentu. Karena bisa saja, tidak hanya elemen fiksi yang diperbaiki, tetapi juga ide ceritamu akan diganti dengan yang baru.

Penanganan writer’s block kronis terkesan menyeramkan, ya? Namun, jika menulis adalah passion mu, jangan takut mengambil risiko. Di dunia ini, tidak ada yang mudah. Semuanya memiliki rintangannya masing-masing meskipun itu adalah hal yang disukai. Ketika berhasil melewatinya, jerih payah kita akan terbayarkan. [msi/wakool.id]

 

Open chat
Hello
Can we help you?